Hidup Bogor

Kamis, 31 Desember 2009


Hirup sejuk nafas pagi kota hujan

tergoda aku untuk tetap tinggal

wajah anggun hangatnya matahari

setapak langkah ajak berlari, bernyanyi:

di sisi pohon

di tengah pohon

di mana-mana tertanam pohon

itu dulu hingga sekarang:

di sisi mall

di tengah mall

di mana pohon asli kotaku

para pendatang berbondong tawar kekuasaan

pribumi ke pinggiran kota, tergusur !

mungkin tersisa,

jadi pengemis,

jadi jual nafsu,

jadi kacung

jadi anjing penjaga gerbang

ada ternama dalam kuasa

menjadi dua tak pernah bersama (Kota & Kabupaten )

jadi Penjilat Negeri Sendiri

jadi PerampOk LIngkungan SendirI

sekarang memang, mungkin nanti

lihat kotaku penuh dengan sampah

ada yang basah, ada yang gerah

Matahari semakin tinggi

selangkah kaki kuangkat kembali

orang-orang seruntul berdesak saling tubruk

lantunan seniman jalanan iringi pandanganku:

potong bebek angsa

ternak babi saja

itu tanah siapa

makam para raja (Rancamaya)

angkuh mereka semakin menjadi

hingga tempat dimana pribumi tinggal

menjadi peristirahatan terakhir babi-babi

dengan tembok megah tak ada guna

rungsing pesta pora di ruko-toko gedung tinggi

pasar-pasar kami kalian rebut….!

untuk bertahan hidup

lapak ditengah jalan-utama

kemacetan angkutan menghantui

pengemudi pribadi mengeluh jenuh

kalakson-kalakson berdentam

hilang kesabaran,

hialng ketenangan,

hilang kesadaran.

lapak kami tergusur pula

tiada alasan dapat izin

sewa kami bayar dimuka setiap hari

ditukar kupon bukti pembayaran

bertuliskan

“Rp. Untuk apa”

kami semua sirna semakin buta

tanpa usaha untuk makan

wajar bila kami mencuri

yang kami curi pun kalian curi

ketika haus aku minum air comberan

ketika lapar aku makan dari tong-tong sampah

bekas keserakahan

aku masih berjalan terbungkam kemunafikan