
Hirup sejuk nafas pagi
tergoda aku untuk tetap tinggal
wajah anggun hangatnya matahari
setapak langkah ajak berlari, bernyanyi:
di sisi pohon
di tengah pohon
di mana-mana tertanam pohon
itu dulu hingga sekarang:
di sisi mall
di tengah mall
di mana pohon asli kotaku
para pendatang berbondong tawar kekuasaan
pribumi ke pinggiran
mungkin tersisa,
jadi pengemis,
jadi jual nafsu,
jadi kacung
jadi anjing penjaga gerbang
ada ternama dalam kuasa
menjadi dua tak pernah bersama (Kota & Kabupaten )
jadi Penjilat Negeri Sendiri
jadi PerampOk LIngkungan SendirI
sekarang memang, mungkin nanti
lihat kotaku penuh dengan sampah
ada yang basah, ada yang gerah
Matahari semakin tinggi
selangkah kaki kuangkat kembali
orang-orang seruntul berdesak saling tubruk
lantunan seniman jalanan iringi pandanganku:
potong bebek angsa
ternak babi saja
itu tanah siapa
makam para raja (Rancamaya)
angkuh mereka semakin menjadi
hingga tempat dimana pribumi tinggal
menjadi peristirahatan terakhir babi-babi
dengan tembok megah tak ada guna
rungsing pesta pora di ruko-toko gedung tinggi
pasar-pasar kami kalian rebut….!
untuk bertahan hidup
lapak ditengah jalan-utama
kemacetan angkutan menghantui
pengemudi pribadi mengeluh jenuh
kalakson-kalakson berdentam
hilang kesabaran,
hialng ketenangan,
hilang kesadaran.
lapak kami tergusur pula
tiada alasan dapat izin
sewa kami bayar dimuka setiap hari
ditukar kupon bukti pembayaran
bertuliskan
“Rp. Untuk apa”
kami semua sirna semakin buta
tanpa usaha untuk makan
wajar bila kami mencuri
yang kami curi pun kalian curi
ketika haus aku minum air comberan
ketika lapar aku makan dari tong-tong sampah
bekas keserakahan
aku masih berjalan terbungkam kemunafikan
